NADIKABAR.COM — Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak nasional.
Hal itu dalam rangka menyimpan cadangan energi untuk memenuhi kebutuhan selama 90 hari atau mendekati standar minimum internasional.
Ia mengatakan pembangunan storage itu diarahkan untuk meningkatkan ketahanan energi Indonesia mendekati standar minimum cadangan energi internasional.
"Standar minimum dunia itu kan di tiga bulan, 90 hari. Jadi kita akan mendekati ke sana. Minimal kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11).
Ia mengatakan studi kelayakan (feasibility study/FS) pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut telah rampung.
"EFS-nya sudah selesai. Di akhir tahun ini akan memulai untuk kita mengecek lokasinya dari sisi keamanan, baik dalam konteks gempanya maupun keamanan lokalnya," ujarnya.
Bahlil mengatakan pemerintah selanjutnya akan melakukan pemeriksaan lokasi pada akhir 2026 dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan.
Ia menyebut penentuan lokasi fasilitas penyimpanan minyak tak hanya mempertimbangkan kebutuhan kapasitas cadangan energi, tapi juga potensi risiko bencana.
Bahlil mengatakan pemerintah ingin memastikan bahwa pembangunan infrastruktur itu tak ditempatkan di wilayah dengan risiko keselamatan tinggi.
"Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan," ujarnya.