NADIKABAR.COM — Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Fithra Faisal Hastiadi menilai tantangan ekonomi yang akan dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming pada tahun ketiga adalah mengubah momentum pertumbuhan menjadi transformasi struktural yang lebih produktif, dan berkelanjutan.

Menurutnya, tantangan tersebut semakin besar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi dinamika geopolitik, votalitas harga energi, tekanan inflasi, serta perkembangan pasar keuangan internasional.

"Jika dua tahun pertama merupakan fase membangun fondasi, maka tahun ketiga harus menjadi momentum memperkuat efek pengganda dari transformasi tersebut," kata Fithra kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa.

Ekonom asal Universitas Indonesia (UI) ini, mengatakan pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka produk domestik bruto (PDB), tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya beli masyarakat.

Fithra melihat perkembangan investasi sebagai salah satu sinyal positif bagi perekonomian Indonesia.

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 5,96 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,61 persen.

Tren tersebut berlanjut pada triwulan II 2026 ketika PMTB tumbuh 6,87 persen, sedangkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan penguatan dari sisi penawaran (supply side) perekonomian. Namun, peningkatan investasi perlu diikuti dengan kenaikan produktivitas agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Fithra menjelaskan, peningkatan kapasitas produksi yang produktif dapat menciptakan pendapatan, membuka kesempatan kerja, dan membentuk sumber permintaan baru dalam perekonomian.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi yang masuk mampu mendorong pendalaman struktur industri dan meningkatkan nilai tambah ekonomi, bukan sekadar menambah kapasitas produksi.

Agenda tersebut, lanjut Fithra, perlu diselaraskan dengan prioritas pembangunan dalam Asta Cita. Industrialisasi yang menjadi bagian dari Asta Cita kelima harus berjalan beriringan dengan pembangunan SDM dalam Asta Cita keempat dan penciptaan lapangan kerja berkualitas yang menjadi bagian dari Asta Cita ketiga.

Menurutnya, keterpaduan kebijakan tersebut penting agar investasi pada manusia dan penguatan kapasitas produksi dapat saling memperkuat.

Dari sisi makroekonomi, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara percepatan pertumbuhan ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal maupun moneter.

Menurut Fithra, transformasi ekonomi membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah besar. Namun, keberlanjutan agenda tersebut tetap bergantung pada disiplin dalam pengelolaan ekonomi.

Fithra menegaskan keberhasilan pemerintahan pada tahun ketiga perlu dilihat dari sejauh mana kebijakan yang dijalankan mampu memperkuat fondasi pembangunan dalam jangka panjang.

Ia berharap transformasi ekonomi dapat membuat Indonesia memiliki struktur ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan produktif, sekaligus menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat.

"Ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukanlah seberapa cepat ekonomi bertumbuh dalam satu atau dua tahun, melainkan seberapa jauh kebijakannya mampu mengubah lintasan pembangunan bangsa untuk satu atau dua generasi mendatang," ujarnya.