NADIKABAR.COM — Banjir bandang dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra dalam beberapa waktu terakhir. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti belum tuntasnya pemulihan ekologis di wilayah tersebut.
Kabupaten Solok, Sumatra Barat, menjadi salah satu wilayah yang terdampak usai banjir bandang atau galodo menerjang kawasan Kayu Aro-Sukarami (Arosuka) pada Senin (21/9). Beberapa hari kemudian, bencana serupa juga kembali melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tepat ketika luapan Sungai Sibuluan memutus akses jalan dan menggenangi sejumlah wilayah.
Publik kembali diingatkan pada bencana banjir dahsyat yang menimpa Sumatra dan sekitarnya tahun lalu. Sunatra bahkan belum pulih dari dampak banjir bandang dan longsor dahsyat pada November 2025.
Menanggapi hal ini, Pakar Hidrologi Hutan serta Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa berulangnya banjir bandang di Sumatra tidak lepas dari proses ekologis pascabencana yang belum tuntas.
Mayong, demikian ia biasa disapa, mengatakan bahwa bencana yang terjadi pada 2025 meninggalkan material longsoran di kawasan hulu yang masih tertahan dan berpotensi kembali terbawa aliran air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
"Banjir bandang yang terjadi November 2025 lalu itu kan sebenarnya proses alamnya belum tuntas," ungkapnya, Jumat (2/10/2026), dikutip dari situs UGM.
Ia memaparkan, sejumlah wilayah di Sumatra memiliki karakteristik bentang alam berupa lereng curam dan lembah sungai yang sempit. Menurutnya, kondisi tersebut justru membuat material longsoran dari kawasan perbukitan dapat langsung menutup aliran sungai.