"Material longsoran yang tertahan itulah yang kemudian membentuk bendungan alami, dan ketika hujan kembali turun dan volume air meningkat, ya bendungan alami tersebut bisa jebol dan menghasilkan banjir bandang," jelasnya.
Selain material longsoran, faktor lain yang memperbesar dampak bencana adalah menurunnya kemampuan ekosistem DAS dalam mengendalikan atau menahan aliran air hujan. Kawasan hutan, lanjutnya, memiliki fungsi penting dalam siklus hidrologi, mulai dari menangkap air hujan melalui tajuk pohon hingga membantu menyimpan air di dalam tanah.
"Kalau tadinya ketika kondisi DAS masih bagus, vegetasinya masih bagus, kalo ada hujan, ya itu tidak langsung mengalir ke bawah (sungai), tapi masih bisa ditahan di tajuk dan disimpan di dalam tanah," paparnya.
Meski begitu, setelah terjadi bencana besar pada November 2025 silam, kemampuan DAS dalam mengendalikan air cukup mengalami penurunan. Mayong mengibaratkan bahwa hutan merupakan mesin alami yang bekerja mengatur aliran air.
Merujuk pada penelitian hidrologi hutan yang ia lakukan, sekitar 25-35% air hujan yang jatuh di kawasan berhutan dapat tertahan di tajuk pohon sehingga tidak langsung mencapai permukaan tanah. Ketika tutupan hutan berkurang, air yang seharusnya tersimpan di tajuk sekitar 25-35%, akan langsung menjadi limpasan permukaan dan meningkatkan debit sungai.
"Kalau sungainya kemudian tiba-tiba debitnya tinggi terus meluap, itu berarti ada sesuatu di atas sana yang harus dilihat, ya berarti ada mesin yang tidak bekerja di hulu. Mesinnya adalah kawasan hutan," ungkapnya.
Guna menjawab tantangan atau persoalan ini, Mayong menyarankan bahwa Pemerintah harus memastikan kawasan rawan bencana tidak kembali menjadi ruang permukiman masyarakat. Ia berpendapat, pemulihan setelah bencana tidak cukup hanya dilakukan dengan membersihkan material banjir atau membangun kembali infrastruktur yang rusak.