"Pemberi kerja seharusnya berfokus pada peningkatan keterampilan karyawan sehingga mereka tetap bekerja ketika teknologi baru mengubah tempat kerja. Sebaliknya, Barclays bersalah karena mengambil pendekatan jangka pendek dan reaktif," kata Graham.
PHK tersebut dilakukan ketika Barclays berada di tahap akhir program penghematan biaya selama tiga tahun yang terutama berfokus pada bisnis perbankan ritel Inggris. Divisi investment banking juga terdampak program tersebut.
Mould mengatakan Barclays belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar dalam kinerja keuangannya meski telah mengandalkan langkah penghematan biaya dan penggunaan AI.
Pada periode tiga bulan hingga September, Barclays mencatat laba sebesar 2,3 miliar pound sterling atau sekitar Rp55,61 triliun (kurs Rp24.180). Laba tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi sedikit di bawah ekspektasi pasar.
Sementara itu, analis sektor keuangan Quilter Cheviot Will Howlett menilai pengurangan tenaga kerja Barclays menunjukkan besarnya potensi AI dan otomatisasi dalam mengubah industri perbankan dalam beberapa tahun ke depan.
"Bank telah mengeluarkan banyak biaya untuk teknologi selama bertahun-tahun. Namun, kita semakin mendekati titik ketika investasi tersebut menghasilkan kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit untuk menjalankan bisnis," kata Howlett.
Barclays memperkirakan langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan akan menghasilkan tambahan penghematan sebesar 1,1 miliar pound sterling atau sekitar Rp26,6 triliun pada 2027.