Langkah lanjutannya meliputi pemetaan kesenjangan pembiayaan, penyiapan proyek, pertemuan pemilik usaha dengan calon pembeli dan investor, serta perluasan skala investasi.

Sejalan dengan kebutuhan itu, Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) bersama para kolaborator meluncurkan Indonesia Bioeconomy Finance Lab (IBFL) pada Indonesia Impact Investment Summit 2026.

Head of Executive Board KEM Gita Syahrani menjelaskan IBFL merupakan wadah kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha bioekonomi dengan pemilik dana untuk mencari skema pembiayaan sesuai kebutuhan.

"Jadi IBFL ini, bayangkan kita membuat memang lab inovasi di mana pelaku usahanya bisa langsung bertemu dengan pemilik dana dan bisa langsung mendiskusikan kasus-kasus spesifik," kata Gita.

Ia mengidentifikasi tiga persoalan, yakni keterbatasan modal kerja dan belanja modal, kebutuhan pendanaan infrastruktur seperti energi dan logistik, serta kesulitan usaha berkembang mengakses pembiayaan sesuai skalanya.

Persoalan terakhir disebut missing middle, yakni kondisi ketika usaha terlalu besar untuk pembiayaan mikro, tetapi belum memenuhi persyaratan investasi yang lebih besar.

Berdasarkan studi Indonesia Impact Alliance (IIA) pada 2024, kesenjangan pembiayaan usaha kecil dan menengah berorientasi dampak sosial dan lingkungan diperkirakan mencapai 50,8 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp913,7 triliun.

Studi tersebut menemukan 55 persen usaha yang disurvei membutuhkan modal 100.000 hingga 2 juta dolar AS, atau sekitar Rp1,8 miliar hingga Rp36 miliar, sedangkan sebagian besar dana investasi berdampak menetapkan investasi minimum 1 juta dolar AS.