Gita menyebut IBFL telah memiliki 18 organisasi kolaborator. KEM sendiri beranggotakan 29 organisasi, memiliki sekitar 18 usaha dalam portofolio, serta mengkurasi sekitar 40 usaha lainnya dari portofolio kolaborator.
Dalam delapan bulan, IBFL menargetkan tiga hingga lima studi kasus pembiayaan yang diharapkan dapat berlanjut hingga penyaluran dana kepada pelaku usaha.
"Di dalam 8 bulan ke depan harapannya betul-betul ada produk atau instrumen pendanaan yang sesuai yang bisa sampai level disbursement ke perusahaan tersebut," ujar Gita.
Investment Manager Southeast Asia Partnerships for Forests (P4F) Hanny Chrysolite menambahkan kesiapan investasi membutuhkan kepastian pasar, harga kompetitif, pengujian produk, serta kerja sama antara pemasok, peneliti, dan pembeli.
Sementara itu, Partnership Manager PT Sobat Bumi Lestari (SOBI) Haga Ginting mencontohkan pengembangan rantai pasok agroforestri di Lanskap Menoreh yang menghubungkan petani dengan pembeli melalui pencatatan pasokan dan asal produk.
Menurut Haga, pencatatan tersebut membantu penilaian kelayakan usaha, sedangkan hibah tahap awal digunakan untuk mengurangi risiko sebelum mencari investasi lebih besar.
Dalam skema pembagian hasil SOBI, sebanyak 74 persen pendapatan dialokasikan kepada petani, 6 persen kepada lembaga lokal dan 20 persen kepada SOBI.