Para peneliti menemukan berbagai mineral yang terbentuk dari proses pembekuan magma. Meteorit tersebut juga mengandung kristal zirkon yang dapat menyimpan informasi mengenai usia serta kondisi pembentukan batuan.
Untuk menentukan usianya, tim peneliti menggunakan teknik penanggalan rubidium-strontium secara langsung pada mineral atau in-situ rubidium-strontium dating. Metode ini memungkinkan ilmuwan menganalisis butiran mineral secara individual tanpa harus melarutkan seluruh sampel batuan. Bahkan, penelitian hanya membutuhkan bagian meteorit yang ukurannya lebih kecil dari kuku jari.
Hasil analisis menunjukkan bahwa air telah mengubah batuan tersebut sekitar 4,1 miliar tahun lalu. Artinya, batuan asalnya kemungkinan terbentuk lebih awal dari periode tersebut.
Lee Saper, salah satu penulis penelitian yang melakukan riset saat menjadi peneliti pascadoktoral di JPL, mengatakan meteorit ini memberikan sampel langka kerak Mars dari wilayah yang sebelumnya belum pernah terwakili dalam koleksi meteorit Mars di Bumi.
"Ini benar-benar merupakan sampel pertama kerak Mars dari wilayah yang sebelumnya belum pernah kita miliki sampelnya. Batuan ini merekam interaksi antara air dan batuan, bahkan mungkin menyimpan jejak atmosfer Mars ketika planet tersebut sedang kehilangan air," kata Saper.
Temuan ini memberikan petunjuk bahwa Mars pada masa awal sejarahnya memiliki siklus air yang lebih dinamis dibandingkan kondisi planet tersebut saat ini.Meski asal planetnya telah dipastikan, para ilmuwan belum berhasil menentukan lokasi persis tempat Teghaza 001 berasal di Mars.