NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo khawatir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat terus terpuruk hingga menembus level Rp21 ribu-Rp22 ribu per dolar AS.

Adik Presiden Prabowo Subianto memprediksi longsornya rupiah bisa terjadi jika Morgan Stanley Capital International (MSCI) benar-benar menurunkan kelas (reklasifikasi) pasar modal RI dari status pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) dan investor asing cabut sehingga membuat rupiah terpuruk.

Hashim memandang ancaman turun kelas oleh MSCI tak lepas dari manipulasi harga atau yang lazim dikenal dengan istilah saham gorengan. Persoalan tersebut tak hanya menjadi perhatian MSCI, tetapi juga memicu kekhawatiran investor asing.

"Ini masalah sangat-sangat serius karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa jadi Rp20 ribu, Rp21 ribu. Ada yang bilang Rp22 ribu," ujarnya di hadapan para pengusaha anggota Kadin Indonesia saat Rapimnas Kadin di Jakarta Pusat, Kamis (29/10).

Menanggapi proyeksi tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menilai angka Rp21 ribu-Rp22 ribu per dolar AS merupakan gambaran dari skenario tekanan berat.

Rizal menyebut kekhawatiran Hashim sangat masuk akal sebagai peringatan, tetapi angka pasti pelemahannya perlu diuji secara kuantitatif.

Merujuk data JISDOR per 3 November 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp18.148 per dolar AS. Untuk menyentuh kisaran Rp21 ribu-Rp22 ribu, dibutuhkan lonjakan harga dolar AS sekitar 15,7 hingga 21,2 persen.

"Perhitungannya memerlukan asumsi arus keluar modal, kebutuhan valas, dan kemampuan stabilisasi Bl," kata Rizal kepada NadiKabar.com, Selasa (3/11).

Ia menekankan risiko akan kian membesar jika sentimen negatif di pasar saham meluas ke pasar obligasi.