NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memastikan penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak menambah anggaran program.

Melalui skema ini, siswa tetap mendapat porsi makanan sesuai takaran yang ditentukan, tetapi bisa mengambil tambahan jika masih tersedia makanan setelah seluruh siswa mendapat bagian.

Sudaryono menjelaskan anggaran MBG tetap dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat.

Perbedaan utama sistem prasmanan terletak pada cara penyajian dan pembagian makanan, yang memungkinkan siswa dengan kebutuhan makan lebih besar mengambil tambahan dari makanan yang tersisa.

"Kalau anggarannya saya kira sama, karena kita melayaninya per Rp15 ribu (per porsi) dikali jumlah anak sekolah. Tapi antara satu siswa dengan siswa yang lain itu kan berbeda. Ada yang tubuhnya kecil, ada yang besar, tentu (porsi) makannya berbeda," ujar Sudaryono di Morrissey Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (16/10).

Ia menjelaskan setiap siswa tetap harus menerima porsi awal sesuai standar gizi yang telah ditetapkan, termasuk takaran protein dan nasi. Setelah seluruh siswa mendapatkan porsi tersebut, makanan yang tersisa dapat diambil kembali oleh siswa yang masih merasa kurang.

"Begitu sudah selesai semua, rata-rata biasanya ada sisa (makanan). Jadi, enggak ngepas," jelasnya.