Menurut Sudaryono, dalam simulasi untuk satu kelas berisi 30 siswa, biasanya terdapat makanan cadangan untuk beberapa siswa.

Sisa makanan itu dapat dimanfaatkan agar siswa yang masih lapar bisa menambah porsi tanpa harus menambah anggaran penyediaan makanan.

Ia juga menilai sistem prasmanan berpotensi mengurangi makanan yang terbuang karena siswa dapat menyesuaikan jumlah makanan yang diambil setelah memperoleh porsi awal. Dari sejumlah pelaksanaan yang telah diamati, ia melihat tingkat makanan yang habis dan kebersihan penyajian cukup tinggi.

Meski dinilai dapat diterapkan lebih luas, Sudaryono mengatakan sistem prasmanan tak bisa langsung diberlakukan di semua sekolah.

Dalam hal ini, BGN perlu memastikan kesiapan dapur penyedia MBG dan pihak sekolah, termasuk guru, kepala sekolah, serta wali murid.

Menurut Sudaryono, sekolah harus bersedia menjalankan sistem tersebut karena pelaksanaannya juga melibatkan siswa dalam kegiatan makan bersama. Jika sekolah tidak bersedia, layanan MBG tetap diberikan melalui mekanisme penyajian yang selama ini digunakan.

"Kami sekarang membuka prasmanan itu bukan membebaskan begitu saja, tetapi sekolah harus daftar ke kami, kami latih dulu, kami pastikan siap, baru boleh buka. Kalau tidak, akan ada pelaksanaan prasmanan yang berbeda-beda. Standarnya harus sama," ujar Sudaryono.