Ia menyebut yayasan-yayasan tersebut meminta potongan dana sebesar Rp500 hingga Rp1.500 untuk setiap ompreng atau porsi makanan yang disalurkan, setiap hari.
Sudaryono mencontohkan, jika sebuah yayasan mengelola 500 dapur dan masing-masing menyalurkan 2.000 porsi per hari, dengan potongan Rp1.000 per porsi, pendapatannya dapat mencapai Rp1 miliar sehari.
"Berarti Rp2 juta, satu hari, satu dapur, kali 500. Rp2 juta kali 500, Rp1 miliar pendapatan dia, enggak keringet, enggak modal, enggak ngawal-ngawal, cuma malak-malak saja," ujarnya.
Menurut dia, praktik pemotongan tersebut berpotensi mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional dapur dan menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat MBG.
"Maka di era kita sekarang, itu kita bersihkan semua. Kita tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kita bersihkan semua," pungkas Sudaryono.