NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap temuan ratusan rekening virtual (virtual account/VA) ganda milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur makan bergizi gratis (MBG) yang berisi dana hingga Rp414 miliar.
Sudaryono mengatakan temuan itu didapat setelah dirinya menjabat sebagai Kepala BGN. Dari hasil pemeriksaan, terdapat sekitar 400 rekening virtual ganda yang ternyata telah terisi dana meski dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum beroperasi.
"Setelah kami masuk, kami temukan ada sekitar 400-an sekian rekening, rekening VA (virtual account) itu double. Setelah dicek, ternyata ada isinya Rp414 miliar setelah ditotal," ujar Sudaryono dalam agenda refleksi 100 hari kepemimpinannya di Jakarta Selatan, Kamis (29/10).
Sudaryono memastikan BGN telah menyisir rekening-rekening tersebut dan mengembalikan dana yang ditemukan ke kas negara.
"Dapurnya belum beroperasi, rekeningnya sudah diisi. Nah, itu kemudian kami sisir, kami kembalikan ke kas negara Rp414 miliar," ujarnya.
Selain persoalan rekening ganda, Sudaryono menyoroti praktik yayasan yang disebutnya hanya menjadi perantara atau calo dalam pengelolaan dapur MBG.
Ia memastikan BGN akan menertibkan yayasan yang dinilai tidak memiliki peran nyata dalam operasional program tersebut.
Menurut Sudaryono, idealnya yayasan dimiliki dan dikelola oleh investor atau mitra yang membangun serta menjalankan dapur SPPG.
Namun, Sudaryono mengklaim menemukan yayasan yang hanya mengisi titik lokasi layanan tanpa memiliki modal untuk membangun maupun mengoperasikan dapur.
"Idealnya yayasan itu dikepalai, dimiliki oleh si investor atau mitra ini. Yang terjadi adalah banyak oknum di BGN Pusat yang lampau, itu kemudian dia bikin banyak yayasan, ngisi titik-titik, tapi tidak punya uang," ujar Sudaryono.
Ia menyebut yayasan-yayasan tersebut meminta potongan dana sebesar Rp500 hingga Rp1.500 untuk setiap ompreng atau porsi makanan yang disalurkan, setiap hari.
Sudaryono mencontohkan, jika sebuah yayasan mengelola 500 dapur dan masing-masing menyalurkan 2.000 porsi per hari, dengan potongan Rp1.000 per porsi, pendapatannya dapat mencapai Rp1 miliar sehari.
"Berarti Rp2 juta, satu hari, satu dapur, kali 500. Rp2 juta kali 500, Rp1 miliar pendapatan dia, enggak keringet, enggak modal, enggak ngawal-ngawal, cuma malak-malak saja," ujarnya.
Menurut dia, praktik pemotongan tersebut berpotensi mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional dapur dan menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat MBG.
"Maka di era kita sekarang, itu kita bersihkan semua. Kita tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kita bersihkan semua," pungkas Sudaryono.