NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp18.200 per dolar AS. Tekanan berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi, yakni di atas US$115 per barel, sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan.
"Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangan tertulis BI terkait perkembangan nilai tukar rupiah, Rabu (28/10).
Selain itu, ia menegaskan ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Erwin menjelaskan memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang atau emerging markets. Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil atau yield obligasi.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.