Pada saat yang sama, BI akan menyesuaikan sektor-sektor yang menjadi sasaran KLM. Yanti mengatakan sektor pertanian, industri, dan hilirisasi telah hampir sepenuhnya memanfaatkan insentif KLM. Karena itu, BI akan mengevaluasi sektor-sektor tersebut dan membuka ruang bagi sektor lain yang dinilai lebih membutuhkan dukungan.

"Untuk sektor pertanian, industri dan hilirisasi itu sudah hampir penuh kemanfaatan dari KLM-nya. Ini artinya perbankan sudah mulai menyalurkan kredit ke sana, sehingga ini nanti kita evaluasi dan kita masukkan sektor-sektor yang baru, yang lebih mendukung kepada penciptaan lapangan kerja," ujar Yanti.

Dengan skema tersebut, tambahan likuiditas dari penurunan GWM tidak berarti BI menyerahkan seluruh arah penggunaan dana kepada perbankan tanpa pengawasan. Yanti mengatakan KLM menggunakan pendekatan forward looking, yakni bank terlebih dahulu menyampaikan komitmen penyaluran kredit dan kemudian realisasinya akan dievaluasi.

"Bank harus menyampaikan komitmen akan menyalurkan kredit pada sektor mana saja, nanti setelah itu di akhir periode kita lakukan perhitungan. Kita cek sesuai nggak antara komitmen dengan realisasinya," kata Yanti.

BI juga menilai kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan masih memadai. Persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kekurangan likuiditas, melainkan distribusi likuiditas yang belum merata antarbank.

Karena itu, tambahan likuiditas dari GWM diharapkan tidak hanya memperbesar ruang perbankan dalam menyalurkan kredit, tetapi juga membantu memperbaiki distribusi likuiditas di sistem perbankan.

"Kita itu melakukan kebijakan ini adalah untuk mengarahkan perilaku dari perbankan. Dari sisi makroprudensialnya penurunan dari GWM ini memberikan fleksibilitas, tapi tetap kita berikan suatu rambu-rambu," ujar Yanti.

Di sisi lain, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Firman mengatakan kombinasi penurunan GWM dan kenaikan Deposit Facility bukan kebijakan yang saling bertentangan.

Menurutnya, penurunan GWM ditujukan untuk menyeimbangkan jumlah likuiditas, sedangkan kenaikan Deposit Facility digunakan untuk membuat koridor suku bunga pasar uang kembali simetris terhadap BI-Rate.

"Ini adalah bagian dari upaya kami menyeimbangkan, malah dia menjadi lebih seimbang menjadi harmonis antara BI-Rate dengan liquidity yang terjadi," kata Firman.

Dengan BI-Rate yang dipertahankan pada 5,75 persen, deposit facility kini berada 75 basis poin di bawah BI-Rate, sementara lending facility berada 75 basis poin di atasnya. Lebih lanjut, BI berharap struktur tersebut memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui pasar uang hingga ke perbankan dan perekonomian.