NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) menyiapkan sektor-sektor baru yang akan menjadi sasaran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Penentuan sektor baru tersebut akan mempertimbangkan kemampuan sektor dalam mendorong penyaluran kredit sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Mal Isnaini Sri Meyyanti atau kerap disapa Yanti mengatakan evaluasi dilakukan karena sejumlah sektor yang selama ini menjadi sasaran KLM telah hampir sepenuhnya memanfaatkan insentif tersebut.
"Untuk sektor pertanian, industri dan hilirisasi itu sudah hampir penuh kemanfaatan dari KLM-nya," kata Yanti dalam taklimat media Bank Indonesia, Jumat (23/10).
Selanjutnya, BI akan melihat sektor lain yang masih memiliki ruang pertumbuhan dan membutuhkan dukungan pembiayaan. Salah satu pertimbangan utama dalam menentukan sasaran baru tersebut adalah kemampuan sektor dalam menciptakan lapangan kerja.
"Jadi kita akan evaluasi sektor-sektor mana yang kemudian bisa kita berikan untuk sektor-sektor baru, yang lebih mendukung kepada penciptaan lapangan kerja," ujarnya.
Yanti menjelaskan kebijakan tersebut tetap ditempatkan dalam kerangka makroprudensial yang akomodatif. BI ingin mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit, tetapi tetap memperhatikan kondisi permodalan, kualitas kredit, dan likuiditas perbankan.
Dorongan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan intermediasi perbankan. Yanti mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,26 persen secara tahunan pada September 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang berada di level 8,22 persen.