"DPK kita itu tumbuh 8,22 persen, sementara kredit kita tumbuh sekitar 13 persen," kata Yanti.

Kesenjangan antara pertumbuhan DPK dan kredit tersebut membuat pengelolaan likuiditas menjadi penting. Menurut Yanti, perbankan tetap membutuhkan ruang untuk mengelola likuiditas agar pertumbuhan kredit dapat berlanjut tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Dalam konteks itu, BI akan menyesuaikan KLM agar insentif tidak hanya berfokus pada sektor yang selama ini sudah berkembang dan banyak memanfaatkan fasilitas tersebut.

Yanti mengatakan BI sedang melakukan evaluasi terhadap sektor-sektor layak memperoleh dukungan KLM. Evaluasi dilakukan dengan melihat sektor mana yang sudah relatif matang dan sektor mana yang masih memiliki kesenjangan pembiayaan.

Artinya, insentif tidak diberikan secara permanen kepada sektor yang sama. Ketika suatu sektor telah mampu berkembang dengan dukungan KLM, BI dapat mengalihkan perhatian kepada sektor lain yang dinilai membutuhkan dorongan lebih besar.

Skema tersebut juga menggunakan pendekatan forward looking. Dalam mekanisme ini, bank terlebih dahulu menyampaikan komitmen penyaluran kredit pada sektor tertentu, kemudian BI mengevaluasi realisasinya.