"Kalau misalnya nggak ketemu dan itu berpengaruh kepada pola nilai tukar yang berada di luar toleransi kita, kami akan respons dengan operasi. Kalau masih bisa dengan DNDF, dalam pengertian mereka nggak mau keluar hari ini ya cover dulu pakai DNDF. Tapi kalau mau keluar hari ini ya bisa masuk dengan intervensi," jelasnya.

"Namun so far, kalau kami lihat masih mengejutkan, tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Ya sempat meloncat di atas Rp18 ribu tapi nggak terlalu jauh. Kita masih bisa mengelola dengan baik," lanjut Erwin.

Di sisi lain, BI juga melanjutkan normalisasi operasi moneter melalui pengurangan likuiditas yang diserap melalui SRBI. Erwin mengatakan posisi SRBI pernah mencapai level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun.

Saat ini, posisi SRBI telah turun ke kisaran Rp900 triliun. Dengan demikian, BI telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dibandingkan posisi tertingginya.

"Kita sudah rilis sebenarnya likuiditas itu dari SRBI, lebih kurang dari posisi tertingginya sekitar 150," kata Erwin.

Ia mengatakan BI akan kembali melakukan kalibrasi terhadap penerbitan SRBI secara bertahap dan terukur. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas yang terserap dalam instrumen berjangka panjang dan likuiditas yang tersedia untuk kebutuhan jangka pendek serta menengah.

"SRBI itu secara perlahan kita akan kurangi terus secara terukur dengan melihat dinamika yang ada, sehingga likuiditasnya itu bisa balance antara likuiditas yang kita kunci di jangka panjang dengan likuiditas yang di jangka pendek dan menengah," tuturnya.

Menurut Erwin, langkah tersebut diharapkan membuat ketersediaan likuiditas di pasar uang lebih memadai setiap harinya sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter BI.