"Saya kira kalau turun juga tidak akan banyak karena kondisi tanaman produksi tidak maksimal. Artinya dengan kondisi cuaca seperti ini bisa terpanen 50% saja sudah bagus," imbuh ia.
Ia juga menyoroti rantai pasok (supply chain) yang masih berkontribusi pada harga cabai. Menurut Tunov, komoditas cabai di banyak tempat masih menggunakan pola lama yang melibatkan banyak tangan sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen akhir.
"Rantai pasok khususnya komoditas cabai masih pola lama butuh beberapa tangan agar sampai ke konsumen, meski sekarang sudah mulai banyak di beberapa wilayah sentra dari kelompok tani langsung ke pasar dan ada juga yang dengan kerjasama antar daerah," bebernya.
Tunov menyampaikan pihaknya telah menggencarkan kegiatan pasar harga terjangkau di sejumlah provinsi, termasuk Jakarta. Langkah ini melibatkan lintas lembaga mulai dari Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Bank Indonesia, hingga pemerintah daerah.
Untuk proyeksi harga cabai menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027, Tunov menilai harga cabai akan cenderung stabil jika kondisi cuaca berangsur membaik.
"Saya kira sampai dengan hari nataru harga akan cenderung stabil jika cuaca mendukung, artinya tidak akan jatuh tapi juga tidak terlalu tinggi, masih dalam level aman," imbuh ia.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Ito Hediarto memastikan pasokan cabai secara nasional cukup menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Menurutnya, kelancaran distribusi perlu dijaga saat ini, terutama pengiriman lewat jalur laut.