"Kalau untuk cabai sendiri cukup, tinggal kita lihat saja sisi distribusinya," kata Ito dalam keterangannya.
Ito menjelaskan, pengiriman cabai ke daerah yang harus melewati laut kerap tersendat di jalan. Kondisi itu dapat menurunkan pasokan di daerah tujuan dan akhirnya mendorong harga naik.
Untuk menjaga harga, Bapanas memantau perkembangannya lewat rapat inflasi yang digelar setiap Senin. Ito menyebut cabai dan beras sebagai dua komoditas yang biasanya naik jelang akhir tahun.
Untuk mengatasi persoalan distribusi, Bapanas menyediakan fasilitas distribusi pangan (FDP). Program ini membantu mobilisasi pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan, sehingga beban biaya distribusi berkurang dan cabai bisa sampai ke konsumen dengan harga lebih terjangkau.
Realisasi anggaran FDP saat ini sekitar 69,5%. Dengan demikian, masih ada sekitar 30,5 persen anggaran yang tersedia untuk daerah yang mengalami kenaikan harga ekstrem.
Selain cabai, Ito memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat selama Nataru. Bapanas telah berkoordinasi dengan Perum Bulog agar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan tersedia setiap bulan.
"Insya Allah tidak usah khawatir dari masyarakat, setiap bulannya akan ada beras di masyarakat, termasuk di bulan Desember," tambah Ito.