Kondisi ini disebut membuat bank sentral AS bersikap hawkish atau menetapkan arah kebijakan moneter yang ketat. Di sisi lain, The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi di tahun ini.

Herditya menilai, kenaikan suku bunga dan sikap hawkish The Fed akan meningkatkan imbal hasil US Treasury (UST). Imbasnya, negara-negara Emerging Market (EM) seperti Indonesia akan mengalami arus modal asing keluar.

"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.

Sementara berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, terdapat beberapa sentimen utama penyebab rontoknya IHSG. Pertama imbas inflasi AS di atas ekspektasi, di mana Consumer Price Index (CPI) September naik melampaui konsensus menjadi 3,7% YoY dengan inflasi inti mencapai 2,6%.