Perusahaan harus membeli bahan baku menggunakan dolar AS, sementara sebagian produknya dijual dalam rupiah di pasar domestik. Kondisi ini membuat ongkos produksi naik sehingga berujung pada efisiensi.

"Jadi begitu mereka beli pakai dolar, menjualnya pakai rupiah untuk pasar domestik. Itu memukul juga. Akhirnya cost produksi naik, cost produksi naik, kost produksi naik, maka mereka melakukan efisiensi," jelasnya.

Faktor ketiga adalah melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri yang terjadi bersamaan dengan masuknya produk impor, terutama dari China. Menurut Said, kondisi tersebut membuat produk dalam negeri semakin tertekan karena konsumen cenderung memilih barang dengan harga lebih murah.

"Akhirnya perusahaan-perusahaan di Indonesia yang pasarnya untuk domestik kepukul. Akhirnya melakukan efisiensi PHK. Itulah faktor-faktor PHK," ujarnya.

Faktor keempat adalah keputusan prinsipal untuk memindahkan kegiatan produksi dari Indonesia. Said mencontohkan Sanken di Cikarang yang menurutnya memutuskan memindahkan produksinya kembali ke Jepang.

"Itu kebijakan prinsipal. Dengan demikian ada empat faktor itu yang menyebabkan terjadinya angka PHK memang melonjak tajam dari Januari ke Agustus,"

Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani mengatakan, persoalan PHK perlu dilihat secara proporsional karena penyebabnya tidak tunggal. Menurutnya, terdapat persoalan struktural yang telah berlangsung cukup lama, salah satunya penurunan daya saing industri nasional.