NADIKABAR.COM — Sejumlah papan iklan (billboard) digital LED di Mesir, Malaysia, Brasil, serta diduga di Irak dan China mendadak menayangkan video pornografi secara bersamaan.

Geng peretas di platform Telegram mengklaim bertanggung jawab atas operasi tersebut dan mengejek sistem keamanan pengelola yang dinilai sangat lemah hingga bisa dijebol dengan sangat mudah.

Insiden penayangan konten tidak senonoh ini memicu kehebohan di jalan-jalan utama di sejumlah negara:

Kelompok di balik saluran Telegram Leakers$ mengungkapkan kepada media The Cairo Report bahwa mereka tidak meretas fisik papan iklan satu per satu, melainkan mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak pengirim konten ke layar LED.

Peretas menggunakan nama samaran Never, 19ylegal, CH, dan Nivex. Mereka mengidentifikasi ribuan sistem yang rentan hanya lewat pemindaian acak otomatis (automated random scan) selama kurang lebih dua jam.

"Ini adalah celah asli pada software yang bertanggung jawab mentransmisikan konten ke layar LED. Operasi ini sama sekali tidak serumit yang dibayangkan orang-orang. Perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk membangun infrastruktur di berbagai negara, tetapi meninggalkan layar LED dan jaringan iklan terhubung ke internet tanpa perlindungan dasar sama sekali," ungkap perwakilan peretas.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka tidak meminta uang tebusan, melainkan ingin membuktikan betapa rentannya infrastruktur publik yang terhubung ke internet.

Kasus peretasan billboard digital bukan pertama kalinya terjadi di dunia siber:

Para pakar siber mencatat bahwa banyak insiden peretasan billboard terjadi akibat pengelola lupa mengubah password bawaan dari pabrikan pada antarmuka web mereka. Lembaga Out of Home Advertising Association of America (OAAA) bahkan secara khusus telah mengeluarkan panduan keamanan yang mewajibkan pengelola untuk tidak mengandalkan default password, demikian dikutip NadiKabar dari Gizmodo, Senin (2/11/2026).