NADIKABAR.COM — Binance, bursa kripto terbesar dunia, kembali membuka layanan penarikan Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya pada Minggu (1/11).
Pada tahap pertama, ada 15 jenis aset kripto yang bisa ditarik, termasuk Bitcoin, Ether, XRP, dan Dogecoin.
Perusahaan yang didirikan di China tersebut mengumumkan melalui laman informasi status layanannya bahwa proses pembukaan penarikan mulai berjalan sesaat setelah pukul 06.00 GMT.
Penarikan aset kripto lainnya akan dibuka secara bertahap setelah Binance menutup 95 persen kerugian dari total US$6,3 miliar aset kripto yang dicuri dari platformnya dalam peretasan digital terbesar di dunia.
Binance mengatakan telah mengganti aset kripto senilai US$6 miliar yang dicuri, dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token pengganti.
Sementara itu, sisa 5 persen aset yang dicuri lebih sulit diperoleh karena tidak banyak diperdagangkan. Binance memperkirakan proses pengadaan aset tersebut membutuhkan waktu lebih lama, terutama untuk memenuhi jumlah yang dibutuhkan.
Binance telah bekerja sama dengan mitra industri untuk membekukan sebagian aset yang terdampak. Hingga Jumat (30/10), sekitar US$3 miliar aset telah berhasil ditemukan, menurut perusahaan tersebut.
Bursa kripto raksasa itu berulang kali menyatakan akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri dalam peretasan tersebut. Perusahaan telah menyisihkan sekitar US$6,34 miliar dana internal perusahaan untuk menutup kerugian.
Dana yang digunakan untuk membeli token pengganti berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) milik Binance senilai US$1 miliar. SAFU merupakan cadangan Bitcoin yang disiapkan perusahaan untuk melindungi nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Selain itu, dana juga berasal dari sebagian Futures Insurance Fund dan kas perusahaan.
Co-CEO Binance Yi He pada Sabtu mengatakan 50 persen dana SAFU akan digunakan untuk menutup kerugian. Namun, perusahaan berkomitmen mengisi kembali dana tersebut hingga mencapai sekitar US$1 miliar.
Binance memiliki 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan tersebut mengelola aset nasabah senilai sekitar US$162,8 miliar.
Berdasarkan laporan Reuters, Minggu (1/11), peretasan Binance menambah panjang daftar kasus pencurian aset kripto. Tahun lalu, para peretas mencuri aset kripto senilai US$2,9 miliar dalam hampir 150 serangan, menurut data perusahaan riset TRM Labs.
FBI mengaitkan peretasan Binance dengan Korea Utara. Sejumlah analis menyebut aksi itu kemungkinan merupakan salah satu pencurian keuangan terbesar yang pernah terjadi.
Sabtu lalu (31/10), FBI menuding unit yang disponsori negara Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan tersebut.
FBI menyatakan aparat penegak hukum mengamati anggota unit tersebut mengonversi aset yang dicuri menjadi mata uang kripto Ether. FBI juga memperkirakan akan terjadi 'pencucian lebih lanjut' atas aset-aset tersebut dengan memanfaatkan teknologi terkait.
Para analis juga sebelumnya menyalahkan Korea Utara atas peretasan tersebut.
Sebagian besar pencurian berlangsung dalam waktu sekitar 20 menit sejak Kamis (29/10) malam. Pola serangan tersebut memiliki kemiripan dengan sejumlah serangan besar sebelumnya yang dituduhkan kepada Korea Utara, menurut perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs dan Chainalysis.
Pyongyang selama bertahun-tahun membantah menggunakan unit siber yang terkait dengan negara untuk melakukan kegiatan spionase, pencurian keuangan, dan pengumpulan pendapatan.Perwakilan Korea Utara di Jenewa dan kedutaannya di China tidak menanggapi permintaan komentar Reuters.
Sementara, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintah AS masih belum yakin apakah Korea Utara terlibat dalam pencurian tersebut.
"Kami tidak tahu apakah Korea Utara terlibat. Namun, jika memang demikian, kami akan berbicara dengan Korea Utara mengenai hal ini," kata Trum melalui akun resmi Gedung Putih di platform X.