NADIKABAR.COM — Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, mengonfirmasi adanya peretasan yang diperkirakan menimbulkan dampak hingga US$ 6,3 miliar atau sekitar Rp 114,42 triliun (asumsi kurs Rp 18.162 per dolar AS). Nilai tersebut termasuk sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 54,48 triliun aset kripto yang saat ini telah dibekukan.
Dikutip dari CNBC, Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan tersebut. Saat ini, manajemen Binance juga tengah melakukan penyelidikan awal untuk mengusut insiden tersebut.
"Insiden keamanan tersebut mungkin melibatkan laptop seorang insinyur DevOps yang diretas, yang memungkinkan penyerang untuk mendapatkan akses ke kontainer layanan dan mengirimkan transaksi penarikan yang tidak sah," ungkap Manajemen Binance dikutip dari CNBC, Jumat (30/10/2026).
Salah satu pendiri Binance, Yi He, menyebut kejadian ini tidak mengganggu deposit pengguna platform. Operasional Binance disebut tetap berjalan normal dan tidak terdampak oleh insiden tersebut.
Namun, bursa kripto itu tengah meningkatkan sistem layanan penarikan dan kontrol alamat terkait. Manajemen Binance memperkirakan layanan penarikan dapat kembali dibuka dalam 48 jam ke depan.
Binance juga memastikan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan menggunakan dana Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana perusahaan. Manajemen juga menegaskan dana milik pengguna platform tetap aman imbas insiden tersebut.