Sementara itu, CEO Circle Jeremy Allaire, melalui unggahan di media sosialnya mengaku perusahaannya telah membekukan lebih dari US$ 800 juta aset USD Coin (USDC) yang diduga terkait dengan insiden tersebut. Langkah serupa juga dilakukan CEO Tether Paolo Ardoino, yang mengaku telah membekukan lebih dari US$ 1,5 miliar stablecoin USDT berkaitan dengan dugaan peretasan tersebut.

Wakil Presiden Senior Stablecoin Ripple, Jack McDonald, mengatakan pihaknya tengah aktif membekukan dana terdampak yang tersimpan dalam RLUSD, stablecoin milik Ripple yang nilainya dipatok terhadap dolar AS.

Dalam pernyataan terpisah, Yi He mengatakan Ripple, perusahaan di balik XRP dan RLUSD, turut membantu menghentikan pergerakan dana senilai US$ 200 juta yang diduga berkaitan dengan serangan tersebut.

Meski demikian, dana yang berhasil dibekukan kemungkinan baru mencakup sebagian dari total aset yang terdampak. Penyedia data kripto Arkham Intelligence mengidentifikasi hampir US$ 6 miliar aset digital, termasuk Bitcoin, Ether, Solana, dan sejumlah stablecoin, yang tersebar di 55 alamat dompet yang diduga terkait dengan eksploitasi tersebut.

Arkham mengidentifikasi dompet kripto dengan menganalisis data blockchain yang tersedia untuk publik. Perusahaan tersebut juga meminta bantuan komunitas untuk mengumpulkan informasi terkait insiden ini.