Di media sosial, Blok M menunjukkan berbagai wajah, mulai dari tempat makanan viral, pusat warga skena, hingga lokasi pertunjukan musik yang ramai didatangi anak muda. Aktivitas yang menghidupkan kawasan terus bergerak dan berinovasi.
"Prinsip utamanya adalah aktivitas-aktivitas tadi, seperti event, kegiatan, ataupun kegiatan-kegiatan komunitas yang memang di situ hidup terus, nggak pernah mati. Memang konsepnya dibuat seperti itu supaya vibrant, hidup terus, nggak pernah capek untuk berinovasi yang baru," ujar Samuel.
Samuel mengatakan, konsep placemaking dan Transit Oriented Development (TOD) saling berkaitan. Namun, placemaking tidak berhenti pada pembangunan fisik, melainkan juga mencakup akses dan keterhubungan, kenyamanan dan citra, aktivitas, serta interaksi sosial di dalamnya.
Blok M pun kini bukan sekadar kawasan untuk mencari makanan di sekitar stasiun. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, berburu makanan viral, bertemu teman, atau bahkan sekadar untuk duduk santai sembari menikmati keramaian Ibu Kota.
Dari Keramaian ke Perputaran Ekonomi
Namun, keberhasilan sebuah kawasan tidak hanya diukur dari seberapa ramai orang yang datang. Di balik geliat aktivitas tersebut, ada perputaran ekonomi yang menjalar ke bisnis dan kawasan di sekitarnya.
Ketika sebuah acara digelar, misalnya, pengunjung tidak hanya menghabiskan uang di lokasi acara, tetapi juga dapat makan di restoran sekitar, berbelanja di toko terdekat, hingga menginap di hotel apabila datang dari luar kota.
"Ada penelitiannya di Stanford University itu mereka bilang di saat ada kegiatan ekonomi kreatif atau biasanya disebutnya MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), multiplier effect itu bisa sampai 4-5 kali dari nilai ekonomi di kegiatannya sendiri. Jadi kalau misalkan kegiatannya itu Rp 10 miliar, sebetulnya multiplier efeknya itu bisa sampai Rp 40-50 miliar," kata Samuel.