Heri menjelaskan fenomena tersebut merupakan salah satu gangguan atmosfer yang kerap melintasi wilayah Indonesia. Namun, kemunculannya tidak serta-merta menunjukkan kondisi awan yang ekstrem.

"Untuk memastikan suatu fenomena yang skalanya apa ya, kecil dan lokal seperti itu, ya itu analisisnya lebih dalam lagi. Perlu data yang lebih lanjut lagi. Untuk sementara dari citra radar itu yang bisa kita lihat, belum bisa lebih detail lagi," bebernya.

Terlebih, DIY saat ini mulai memasuki periode peralihan musim. Berdasarkan pengamatan BMKG, kondisi awan pada pagi hari saat kejadian dilaporkan tidak menunjukkan perkembangan yang terlalu besar.

Soal ukuran bongkahan es yang dilaporkan mencapai sekitar 20 sentimeter, Heri mengatakan pembentukan es berukuran besar membutuhkan proses dinamika atmosfer yang kuat.

Dalam proses tersebut, bongkahan es harus mengalami pergerakan berulang dalam awan hingga ukurannya membesar. Kondisi ini membutuhkan pertumbuhan awan yang sangat besar serta dinamika atmosfer yang mendukung.

"Maksudnya sampai segitu besarnya itu itu memang perlu kondisi menurut analisis sementara gitu ya, perlu memang proses awan yang sangat besar terus esnya itu di angkat ke atas, angkat ke bawah oleh dinamika atmosfer gitu sampai jadi besar," jelas Heri.

Menurutnya, apabila memang terjadi proses pembentukan es dengan ukuran sebesar itu, semestinya terdapat indikasi kondisi atmosfer yang lebih ekstrem dan berpotensi berdampak di beberapa lokasi, bukan hanya satu titik.