"Tapi kondisi pagi ini tuh kok kami enggak melihat ada yang terlalu yang sangat ekstrem. Hanya kondisi umum," kata Heri.
"Dari dari sisi hujannya aja hujannya adanya di barat laut dari lokasi kejadian dan itu hanya ringan hingga sedang aja, awannya juga enggak terlalu tinggi gitu," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, sebongkah es berdiameter sekitar 20 sentimeter dilaporkan menimpa rumah warga di RT 3 Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Senin (2/11/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Insiden tersebut menyebabkan bagian atap dan plafon rumah jebol. Bongkahan es diduga awalnya berukuran lebih besar sebelum pecah menjadi dua bagian besar dan sejumlah potongan kecil.
Kepala Dusun Jodog, Bayu Yunarto, mengatakan kejadian tersebut cukup janggal karena hanya satu rumah yang terdampak. Saat itu, kondisi langit di wilayah setempat memang mendung, tetapi tidak turun hujan air maupun hujan es. Beruntung, tidak ada korban karena rumah dalam keadaan kosong ketika bongkahan es jatuh.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, menyatakan telah menerima laporan kejadian tersebut dan berkoordinasi dengan BMKG untuk menelusuri kemungkinan adanya fenomena hujan es.
Menurutnya, hujan es saat masa peralihan musim memang lazim terjadi, tetapi ukuran bongkahan yang dilaporkan kali ini jauh lebih besar dibandingkan fenomena serupa yang biasanya hanya sebesar bola pingpong.
Hingga kini, penyebab jatuhnya bongkahan es tersebut masih didalami lintas instansi. Pemerintah setempat juga belum menyimpulkan apakah terdapat unsur kesengajaan di balik peristiwa tersebut.