NADIKABAR.COM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mengatakan hasil koordinasi dengan BMKG Mataram menyebutkan perkiraan cuaca untuk Kota Mataram di sepanjang bulan Oktober 2026 menjadi masa dimulainya pembentukan bibit awan hujan.
"Diperkirakan hujan akan mulai turun di bulan November dengan intensitas normal. Sementara puncak musim hujan untuk wilayah Mataram dan sekitarnya diprediksi pada bulan Januari 2027," Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Budi Wartono di Mataram, Selasa.
Hal tersebut disampaikan menyikapi sudah mulainya terjadi bibit-bibit hujan atau gerimis dalam beberapa hari terakhir di wilayah Kota Mataram, namun hingga saat ini belum pernah terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Kendati demikian langkah antisipasi masuknya musim hujan sudah dilakukan, kata dia, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram untuk melakukan penanganan sedimen dan sampah pada saluran, drainase, dan sungai.
Langkah tersebut dimaksudkan agar saat musim hujan tiba, lanjutnya, semua bisa berfungsi maksimal dan mengantisipasi terjadinya luapan air yang masuk ke permukiman warga.
"Begitu juga di wilayah pesisir, kondisi gelombang pantai terus kami pantau," kata Budi Wartono.
Sementara menyinggung tentang dampak musim kemarau, Budi mengatakan hingga hari ini wilayah Kota Mataram belum terdampak kekeringan ekstrem seperti di sejumlah kabupaten/kota lainnya di daerah itu.
"Alhamdulillah, sejauh ini penyediaan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi dan aman," katanya.
Selain itu hingga hari ini BPBD juga memastikan belum menerima laporan maupun aduan terkait dampak kekeringan ekstrem yang dialami warga. Kepastian itu diperoleh setelah pihak BPBD berkoordinasi intensif dengan jajaran kepala wilayah, enam camat, serta 50 lurah, di seluruh wilayah Kota Mataram.
Berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, ketersediaan air bersih masyarakat sejauh ini masih relatif aman dan tidak ditemukan adanya sumur warga yang mengering.
"Begitu pula di sektor pertanian, aktivitas bercocok tanam masih berjalan normal tanpa memicu kekeringan ekstrem yang menyebabkan kegagalan panen maupun gagal tanam," katanya.
Meskipun diakuinya debit air pada saluran irigasi terpantau mengalami penurunan akibat berkurangnya pasokan air dari wilayah hulu, tapi aliran air tersebut dipastikan masih berfungsi untuk mengaliri lahan pertanian.