NADIKABAR.COM — Arjun Vishal Prajapati, bocah lelaki usia lima tahun di Kanada yang mulai membaca pada usia 18 bulan, punya IQ 141. Angka ini mengungguli 99,7% dari populasi tes tersebut, membuatnya memenuhi syarat gabung dengan dua komunitas individu ber-IQ tinggi.

Arjun menerima Certificate of Recognition and Achievement di Majelis Legislatif Ontario pada 29 Oktober atas intelektualitas luar biasa, termasuk masuk dua komunitas IQ tinggi internasional, Mensa dan Intertel. Mensa mengharuskan pendaftar punya skor di rentang 2% teratas populasi, sementara Intertel menetapkan ambang batas 1% teratas.

Anggota parlemen menyerahkan sertifikat tersebut. Arjun diperkenalkan selama proses sidang didampingi orang tua dan adik perempuannya. Ia juga menerima surat ucapan selamat dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Premier Ontario Doug Ford.

Ayah Arjun, Vishal Prajapati, dokter dari Gujarat India, mengatakan keingintahuan putranya sudah terlihat sejak usia dini. Ibunya, Mahitha Thota, pengacara yang aslinya dari Hyderabad, memperkenalkannya pada buku bergambar sejak bayi.

Arjun mulai membaca pada usia sekitar 18 bulan dan berminat pada matematika, astronomi, genetika, mikrobiologi, dan fisiologi manusia. Pada usia lima tahun, ia melahap lebih dari 3.000 buku.

Orang tuanya menyimpan beberapa buku di mobil agar ia bisa membaca di perjalanan. "Ayah, bagaimana kalau aku bosan? Aku harus punya setidaknya satu buku untuk dibaca!" ujar Arjun.

Minatnya membawanya ke sains tingkat lanjut. Ia menyelesaikan kursus pengayaan fisiologi manusia dan biologi sel melalui Center for Talent Development di Northwestern University, Amerika Serikat.

Minat pada kedokteran juga menginspirasi ide penemuan. "Aku ingin membuat mesin yang bisa menemukan kuman segera setelah masuk dalam tubuh, sehingga dokter bisa membantu orang sebelum mereka sangat sakit," katanya.

Pengetahuannya terkadang mengejutkan orang tuanya. Saat belajar reproduksi manusia, Arjun pernah berkata pada ibunya: "Syukurlah Ibu punya sel telur! Kalau tidak, aku dan adikku takkan pernah ada di dunia!"

Arjun juga menunjukkan kemampuan matematika tingkat lanjut. Ia hafal tabel perkalian dari satu hingga 20 dan senang mengotak-atik bilangan kuadrat, pangkat tiga, sampai pola angka.

Ia juga pernah bertanya apa yang akan terjadi jika seseorang mengebor lubang menembus Bumi. Selain kedokteran dan matematika, ia menggemari astronomi dan lubang hitam. Ia bermimpi menjadi astronot.

Menurut Education Times, Arjun mencetak skor 141 pada Stanford-Binet Intelligence Scales Edisi Kelima saat berusia empat tahun 10 bulan, mengungguli sekitar 99,7% dari populasi tes tersebut.

Meski pencapaiannya luar biasa, orang tuanya tidak menekannya. "Kami percaya tiap anak memiliki minat, kekuatan, dan kemampuan unik. Tanggung jawab kami bukan memaksakan ambisi kami, melainkan mengenali minat, mendorong rasa ingin tahu, dan memberi kesempatan mengeksplorasi ketertarikannya," kata sang ayah.

Di luar jam belajarnya, Arjun menikmati musik, melukis, dan menghabiskan waktu bersama teman serta adik perempuannya. Orang tuanya ingin ia mengembangkan sifat kebaikan, belas kasih, dan kegigihan.

"IQ sangat tinggi tak boleh membebani atau mendefinisikan identitas anak. Kami ingin Arjun bangga dengan pencapaiannya, tapi kami juga ingin ia memahami kebaikan hati, kasih sayang, kerendahan hati, kegigihan, dan dedikasi sama pentingnya," sebut ayahnya, dikutip NadiKabar dari VN Express.