Dalam layanan perpajakan, teknologi tersebut berpotensi membantu otomatisasi proses administrasi dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, Mark tidak menyatakan bahwa kemampuan agentic AI tersebut sudah diterapkan dalam Coretax saat ini.

Mark mengungkapkan bahwa DJP tengah menyiapkan rencana pengembangan AI. LG CNS menyatakan siap membantu apabila dibutuhkan, tetapi keputusan mengenai teknologi dan waktu penerapannya tetap berada di tangan otoritas perpajakan Indonesia.

Selain infrastruktur, Mark menyoroti pentingnya pengembangan sovereign AI atau AI berdaulat. Konsep ini menekankan kemampuan suatu negara untuk mengendalikan data, model, dan infrastruktur AI yang digunakan, terutama untuk kebutuhan strategis pemerintah.

Korea Selatan telah mengembangkan pendekatan tersebut melalui program nasional K-AI yang mendorong pengembangan model AI domestik.

Salah satunya adalah K-EXAONE, model AI yang dikembangkan oleh konsorsium LG AI Research dengan LG CNS sebagai salah satu anggotanya.

Melalui pendekatan sovereign AI, data sensitif pemerintah dapat dikelola menggunakan infrastruktur yang berada di bawah kendali nasional. Model AI juga dapat disesuaikan dengan bahasa, regulasi, serta kebutuhan layanan publik masing-masing negara.

Bagi Indonesia, pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan AI yang memahami bahasa Indonesia dan konteks administrasi pemerintahan. Namun, penerapannya membutuhkan investasi komputasi, tata kelola data, dan tenaga ahli yang memadai.

LG CNS sendiri memiliki sejumlah kemitraan teknologi global, termasuk dengan NVIDIA di bidang AI data center dan robotika, Anthropic untuk pemanfaatan Claude, serta Microsoft dalam pengembangan AI dan cloud. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan Palantir dan memiliki kemitraan dengan Google Cloud.