NADIKABAR.COM — Pendiri dan CEO Meta, Mark Zuckerberg, menolak seruan agar perusahaan-perusahaan AI bekerja sama untuk memperlambat laju pengembangan produk mereka, menyusul peringatan dari laboratorium AI mengenai potensi kemusnahan manusia akibat teknologi yang tak terkendali.

Dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip NadiKabar, Zuckerberg menyebut perusahaan AI dapat memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan produk jika merasa teknologi tersebut tak aman. Posisinya bertentangan dengan seruan tindakan terkoordinasi dari CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman.

"Saya tak merasa kita membutuhkan semacam koordinasi di seluruh industri. Menurut saya, tiap laboratorium perlu meluangkan waktu dan ketika melihat ada masalah, Anda cukup mengambil waktu yang dibutuhkan secara internal untuk pada dasarnya memastikan Anda melangkah dengan aman," cetusnya.

Awal September, mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memicu kekhawatiran ketika ia mengundurkan diri karena takut sistem AI bisa lepas kendali dalam beberapa tahun ke depan.

Amodei merilis esai yang menyerukan para perusahaan mengatur laju pengembangan AI, yang didukung Altman bersama salah satu pendiri Google DeepMind Demis Hassabis, dan Elon Musk dari xAI.

Zuckerberg menilai upaya semacam itu tidak diperlukan. Ia menekankan pelanggan secara alami akan beralih ke produk paling sesuai dengan kebutuhan dan produk yang tidak aman atau sulit dikendalikan akan membuat takut calon pengguna.

"Jika Anda membangun sebuah produk, orang-orang tidak akan mau menggunakannya jika produk tersebut tidak melakukan apa yang mereka inginkan," katanya.

Agen AI Muse milik perusahaannya yang merupakan asisten AI otonom, popularitasnya meroket. Dirilis 8 September, agen ini dapat melakukan tindakan atas nama pengguna, mulai memesan tiket, membalas email, menyusun ringkasan riset dan membatalkan langganan. Muse jadi aplikasi gratis terpopuler App Store dan Google Play.

Alih-alih mengkhawatirkan skenario kiamat akibat sistem AI yang berkembang pesat, Zuckerberg mengatakan perusahaan AI seharusnya fokus memastikan sistem memahami keinginan serta niat pengguna dan menangani informasi tersebut dengan kebijaksanaan.

"Menuntaskan hal-hal tersebut dengan baik akan menjadi hal terpenting berikutnya untuk diselaraskan dengan apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang di dunia," ujar Zuckerberg.

Zuck menyebut sistem Muse sebenarnya terdiri dari beberapa agen yang bekerja sama. Ada agen AI Meta lain yang disebut Sentinel, mengawasi dan mengontrol agen utama Muse. Jika Sentinel mengamati agen Muse berpotensi melampaui batas, ia dapat memperingatkan pengguna dan minta izin sebelum mengambil tindakan.

"Agen AI perlu dilatih dari awal untuk memiliki kepekaan tentang informasi apa yang boleh dibagikan dan apa yang tidak," kata Zuckerberg, dikutip NadiKabar dari NBC.

Muse dan agen AI lainnya memicu kekhawatiran terkait privasi, mengingat besarnya jumlah informasi dan akses yang dapat diberikan pengguna kepada mereka.

Zuckerberg mengklaim informasi pengguna aman bersama Meta. Ia menunjuk rekam jejak perusahaan terkait privasi serta perpesanan terenkripsi di WhatsApp sebagai bukti.

Zuckerberg menjaga jarak dari peringatan Coxon dan peneliti lainnya bahwa AI bisa menyebabkan kepunahan manusia. Ia menyebut AI yang dipersonalisasi dapat merevolusi kehidupan.

"Ada banyak retorika penuh ramalan suram. Saya cukup optimis terhadap fakta ini akan menjadi masa depan yang sangat positif bagi semua orang," pungkasnya.