"Kami mengajak kita semua melihat AED bukan sekedar beban biaya, melainkan sebagai investasi kemanusiaan. Satu AED yang tersedia dan dikenali, masyarakat dapat menyelamatkan nyawa seorang ayah, ibu, anak, dan pekerja yang sedang menjalankan tugas. Nilai itulah, nyawa tidak dapat dibanding dengan harga sebuah alat," katanya.
Senada, Ketua Komisi 3 advokasi BPKN Fitrah Bukhori mengatakan akhir-akhir ini banyak konser di Jakarta. Di tengah keramaian dan aktivitas seperti itu, katanya, ada hal-hal yang dapat berisiko menyebabkan henti jantung. Jika tidak ada alat bantuan yang bisa diakses dengan mudah di acara-acara itu, orang bisa meregang nyawa.
“Jadi jangan sampai kemudian ketika kita ingin melaksanakan, menonton sebuah konser, tapi justru malah kita berakhir menjadi tinggal nama setelah konser itu,” katanya.
Menurutnya, ada empat tantangan terkait penyediaan AED yang perlu diatasi, yakni sebaran alat, aksesibilitas, kesiapan perangkat, dan kapasitas atau pengetahuan penggunaan AED.