NADIKABAR.COM — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% di kuartal III-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut okupansi hotel yang meningkat hingga tumbuhnya industri jadi beberapa faktor pendorong ekonomi. Industri pengolahan menjadi salah satu penyumbang terbesar ekonomi Indonesia, yakni 1,20% dari total pertumbuhan ekonomi nasional.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan seluruh lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Gabungan kelimanya mencakup sekitar 65,31% dari PDB nasional.

"Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, pada triwulan III-2026 industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 1,20%. Jadi 5,47%, 1,20% dari industri pengolahan," kata Edy di kantor pusat BPS, Kamis (5/11/2026).

Selain industri pengolahan, pertumbuhan ekonomi juga ditopang lapangan usaha perdagangan dengan kontribusi 0,94%, konstruksi 0,62%, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,49%.

Menariknya, lapangan usaha dengan pertumbuhan paling tinggi justru berasal dari penyediaan akomodasi dan makan minum. Kinerja ini didorong oleh peningkatan hunian kamar hotel serta konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran. Sementara itu, jasa keuangan tumbuh 8,47% dan jasa lainnya meningkat 8,32%.

"Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 11,22% didorong oleh peningkatan hunian kamar hotel dan konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran," jelas Edy.

Kinerja industri pengolahan ditopang oleh peningkatan permintaan dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09%, terutama didukung peningkatan ekspor CPKO dan produk turunan CPO serta pemanfaatan CPO di dalam negeri untuk produksi biodiesel.

Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh 8,10%. Peningkatan ini didorong oleh produksi FAME seiring penerapan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 serta peningkatan produksi pupuk.

Adapun industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan 9,94%, sejalan dengan peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja seperti katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.

Di luar industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor turut tumbuh seiring peningkatan aktivitas perdagangan. Kinerja ini didukung oleh kenaikan penjualan kendaraan bermotor, terutama kendaraan niaga dan listrik, serta peningkatan suplai barang domestik dan impor.

Sektor konstruksi juga mencatatkan pertumbuhan yang didorong pembangunan proyek infrastruktur pemerintah dan swasta. Sejumlah program pemerintah yang menopang sektor ini antara lain pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, hingga revitalisasi sekolah.

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh sejalan dengan peningkatan aktivitas telekomunikasi, traffic data, penggunaan layanan data center, serta transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia dengan porsi 51,97%. Komponen ini tumbuh 5,04% pada kuartal III-2026.

Selain konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi memiliki kontribusi 30,81% terhadap PDB dan tumbuh 6,06%. Dengan demikian, kedua komponen tersebut mencakup 82,78% dari total PDB nasional.

Berdasarkan sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar sebesar 2,62%. Kemudian diikuti PMTB sebesar 1,91% dan konsumsi pemerintah sebesar 0,62%.

Konsumsi rumah tangga antara lain didorong oleh pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel sebesar 6,59%, seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran. Sementara itu, transportasi dan komunikasi tumbuh 5,83% yang ditopang mobilitas masyarakat serta berbagai kegiatan pertunjukan dan olahraga.

Di sisi investasi, pertumbuhan PMTB didorong oleh subkomponen kendaraan yang meningkat 12,96%, baik dari produksi domestik maupun impor. Kinerja tersebut sejalan dengan realisasi investasi berdasarkan data BKPM yang tumbuh 7,59%.

Adapun konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan paling tinggi dari seluruh komponen pengeluaran, yakni 8,95%. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN, serta belanja barang dan jasa.

"Peningkatan realisasi belanja barang dan jasa terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat di antaranya program makan bergizi gratis atau MBG," tutupnya.