Sementara itu, ikan segar juga menjadi penyumbang utama di Papua Barat, Maluku Utara, Papua Tengah, dan Kalimantan Tengah.
Jenis ikan yang mengalami kenaikan harga berbeda-beda di setiap daerah. Di Sulawesi Utara, komoditas yang berkontribusi antara lain ikan malugis dan cakalang. Di Papua Barat, kenaikan harga antara lain terjadi pada ikan selar dan ikan layang.
"Untuk yang di Sulawesi Utara, di sini cabai rawit, ikan segar, juga tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara juga Sulawesi Utara dan Papua Barat memberikan andil inflasi," ujar Ateng.
Selain komoditas tersebut, BPS juga mencermati perkembangan harga beras. Inflasi beras secara tahunan masih tercatat di sejumlah daerah, dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah yang perlu diperhatikan.
Dalam paparannya, Ateng menyebut inflasi beras di kedua provinsi tersebut berada di kisaran 17 persen dan 12 persen.
Menurut Ateng, beras perlu diwaspadai karena memiliki bobot yang cukup besar dalam penghitungan inflasi. Selain itu, kenaikan harga dibandingkan posisi Desember 2025 berpotensi membuat inflasi tahunan tetap tinggi hingga akhir tahun.
Data BPS per Oktober 2026 menunjukkan kenaikan harga beras terjadi di tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran. Harga beras di penggilingan naik 0,26 persen secara bulanan dan 6,89 persen secara tahunan.
Di tingkat grosir, kenaikannya tercatat 0,01 persen secara bulanan dan 5,13 persen secara tahunan. Sementara di tingkat eceran, harga naik 0,08 persen secara bulanan dan 4,10 persen secara tahunan.
"Walaupun inflasinya 4,10 persen, tetapi andilnya lumayan besar," ujar Ateng.