NADIKABAR.COM — Rencana pembangunan pusat data AI di Jatiluhur mengundang perdebatan. Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan perlunya kajian dan analisis yang serius.
Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi rencana pembangunan data center di Jatiluhur, Purwakarta. Kepada NadiKabar, perwakilan dari kelompok ahli limnologi ini menjelaskan bahwa dari perspektif sumber daya air, penggunaan air pada Waduk Jatiluhur untuk mendukung operasional data center pada dasarnya perlu dilihat secara komprehensif, bukan hanya dari berapa besar volume air yang tersedia pada Waduk Jatiluhur saja.
"Apakah tambahan kebutuhan air tersebut dapat dipenuhi secara andal tanpa mengganggu kebutuhan yang sudah ada seperti, irigasi, air baku, dan kebutuhan lainnya, terutama pada musim kemarau," jelas mereka melalui pesan singkat, Rabu (30/9/2026).
Secara garis besar, data center membutuhkan sistem pendinginan yang dalam kondisi tertentu dapat menggunakan air dalam jumlah cukup besar, dan air yang diambil juga tidak seluruhnya akan menjadi air limbah. Dijelaskan, sebagian air dapat hilang melalui penguapan (evaporasi) akibat panas yang dihasilkan peralatan komputasi/server/GPU, sementara sebagian lainnya dapat menjadi blowdown dan perlu dikelola.
Blowdown merupakan air yang sengaja dikeluarkan dari sistem cooling tower untuk mengendalikan konsentrasi mineral. Perlu dilakukan pengkajian dan analisis terkait neraca air serta simulasi operasi pada waduk dengan memasukkan kebutuhan data center sebagai pengguna baru dari kebutuhan air pada Waduk Jatiluhur.
"Selain jumlah air yang diambil, juga perlu dihitung dan dikaji terkait berapa besar air yang benar-benar dikonsumsi dari operasi data center, melalui besar evaporasi yang dapat terjadi, serta berapa yang menjadi blowdown dari operasional pendinginan data center, dan seberapa besar air dapat digunakan kembali dari operasinal data center," imbuhnya.
Oleh karena itu, sebelum memberikan kesimpulan terkait apakah air waduk Jatiluhur dapat digunakan atau tidak untuk mendukung operasional data center, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu mengenai besaran kebutuhan air untuk operasional dan sistem pendinginan data center.
Selain itu, perlu juga dipahami sumber air yang akan digunakan, pola pengambilan air, pola operasi Waduk Jatiluhur, neraca air waduk, serta ketersediaan dan keandalan pemenuhan kebutuhan air pada berbagai kondisi hidrologi. Terutama pada musim kemarau atau kondisi tahun kering.
"Hasil kajian tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan besaran alokasi air yang dapat diberikan, persyaratan efisiensi penggunaan air, serta skenario operasi yang diperlukan agar pemanfaatan air untuk data center tidak mengurangi keandalan pemenuhan kebutuhan air yang telah ada sebelumnya," kata Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.
Di samping aspek kuantitas dan ketersediaan air, perlu juga dilakukan kajian tambahan dari aspek kualitas air, baik terkait kualitas air yang dibutuhkan untuk sistem pendinginan data center maupun kualitas air buangan (blowdown) yang dihasilkan dari proses pendinginan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa air yang digunakan memenuhi persyaratan kualitas yang diperlukan oleh sistem pendinginan.
"Dan bahwa air buangan yang dihasilkan dapat dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan perairan," tambahnya.
Sebelumnya, Gubenur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM buka suara soal kekhawatiran kebutuhan air untuk pusat data berbasis artificial intelligence (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Dia menegaskan kebutuhan air proyek tersebut harus dihitung sejak awal agar tidak mengganggu alokasi air untuk sektor pertanian.
Proyek tersebut punya nilai investasi sebesar Rp 3,5 triliun yang dibangun di atas lahan 8.000 meter persegi dengan kawasan pengembangan mencapai 11 hektare. Pusat data tersebut memiliki kapasitas daya listrik hingga 120 megawatt (MW), dengan kapasitas pengembangan mencapai 640 MW.