Peralihan ke tambang bawah tanah menjadi bagian penting dari rencana peningkatan kapasitas produksi BRMS. Selain menambah volume emas yang dihasilkan, kadar bijih yang lebih tinggi juga diharapkan dapat memperbaiki efisiensi dan keekonomian produksi.
Di sisi lain, laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026 masih menunjukkan tekanan. Penjualan BRMS turun 8,71% secara tahunan menjadi US167,58 juta. Laba bersih bahkan merosot 36,85% menjadi US23,94 juta. Kondisi ini terjadi ketika operasional perusahaan masih didominasi tambang terbuka berkadar rendah, meskipun harga emas global tengah berada pada level tinggi.
LTLS mulai memperluas kapasitas bisnis bahan baku makanan dan minuman. Melalui anak usahanya, Lautan Natural Krimerindo (LNK), perusahaan tengah merampungkan fasilitas produksi liquid ingredients pertama dengan kapasitas mencapai 40 juta liter per tahun.
Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Produk yang akan dihasilkan mencakup plant-based milk, liquid creamer, serta berbagai bahan baku cair lainnya.
Kehadiran fasilitas baru ini akan melengkapi lini produksi spray dried milik LNK yang sudah beroperasi sejak 2010. Ekspansi tersebut juga menyasar perubahan tren konsumsi masyarakat perkotaan yang semakin mengenal produk minuman rendah gula, minuman sehat, hingga alternatif pengganti susu sapi.
Untuk mendukung pengembangan fasilitas tersebut, LTLS menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp200 miliar.
Ekspansi ini juga didukung perkembangan bisnis LNK. Salah satunya melalui unit food service Ellenka Professional yang mencatatkan pertumbuhan dua digit. Hingga saat ini, segmen pelanggan bisnis atau business-to-business (B2B) masih menjadi kontributor utama dengan porsi lebih dari 50% terhadap penjualan.
BIPP telah merampungkan aksi penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Dalam aksi tersebut, perusahaan menerbitkan 502,87 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham.
Dari penerbitan saham tersebut, BIPP memperoleh dana sebesar Rp100,57 miliar. Seluruh saham baru diambil oleh investor terafiliasi, yakni PT Gratamulia Pratama yang menyerap 494,47 juta saham senilai Rp98,89 miliar dan Safire Capital Pte. Ltd sebanyak 8,40 juta saham senilai Rp1,68 miliar.