"Kemudian adanya disparitas harga tentu. Jadi kalau di tingkat nelayan itu harganya kira-kira sekitar Rp 8.500 per ekor, sementara di Vietnam itu, kalau lagi ramai sekali itu Rp35.000, kalau dirupiahkan," jelasnya.

Selain disparitas harga, nelayan lokal memilih segera menjual benih bening lobster secara instan daripada harus membudidayakannya sendiri karena besarnya permintaan pasar. Di sisi lain, proses pembesaran lobster membutuhkan waktu yang lama serta biaya modal operasional yang tidak sedikit.

"Kebutuhan akan BBL yang dibutuhkan oleh negara tetangga kita yang sangat besar, itu yang menyebabkan masyarakat kita dengan mudahnya segera menjual benih bening lobster itu daripada dibesarkan yang butuh biaya yang besar dan waktu yang lama," terang Trenggono.

Trenggono sempat meninjau langsung wilayah budi daya lobster di Vietnam. Ia menyebut industri pembudidayaan di sana sudah berskala besar dan sangat masif. Ketergantungan industri luar negeri terhadap pasokan benur ilegal dari Indonesia membuat praktik penyelundupan terus berputar.