NADIKABAR.COM — Demam olahan ube, mulai dari pastry, es krim, hingga matcha latte kekinian, membuat umbi berwarna ungu pekat ini kian diburu oleh industri kuliner modern.
Di tengah popularitasnya, ube (Dioscorea alata) kerap dibandingkan dengan saudara kembarnya di pasar lokal, yaitu ubi ungu (Ipomoea batatas).
Meski sepintas tampak serupa, keduanya berasal dari famili berbeda. Begitupun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses penanaman ube membutuhkan teknik, waktu, dan modal yang jauh berbeda dari ubi ungu lokal.
Pakar Plant Breeding dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof Agung Karuniawan mengatakan, proses budidaya ube cukup berbeda daripada ubi jalar.
"Kalau dibandingkan dari aspek teknis budidaya, ube relatif lebih kompleks karena merupakan tanaman merambat yang membutuhkan pengaturan pertumbuhan tajuk dan biasanya memerlukan lanjaran atau sistem penyangga agar pertumbuhan tanaman lebih terarah," ujar Prof Agung dalam wawancara dengan NadiKabar.com, Kamis (20/8/2026).
Prof Agung menjelaskan, budidaya ubi jalar relatif lebih sederhana karena pertumbuhannya menjalar di permukaan tanah dan tidak memerlukan konstruksi penyangga.
Hal penting lainnya dari budidaya ube adalah pengelolaan ruang vertikal. Meski ube adalah tanaman merambat yang umumnya membutuhkan penyangga, studi di Indonesia membuktikan bahwa hal tersebut tidak selalu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman secara nyata.
"Jadi, kebutuhan lanjaran perlu disesuaikan dengan varietas, sistem produksi, dan tujuan budidayanya," terangnya.
Dengan demikian, Prof Agung menyatakan, bukan berarti ube sulit dibudidayakan, melainkan perlu pengelolaan pertumbuhan yang berbeda dibandingkan ubi jalar.
"Secara prinsip teknik budidayanya sama-sama membutuhkan bahan tanam, pengolahan tanah, pengaturan air, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu, dan panen, tetapi ada beberapa kekhususan," katanya.
Salah satu yang membedakan ube dengan jenis umbi lainnya adalah ube memiliki siklus produksi yang relatif panjang, sekitar 8 hingga 10 bulan. Oleh karenanya, manajemen pertanaman harus dirancang berbeda dengan tanaman yang berumur lebih pendek.
"Penelitian terbaru di IPB juga menunjukkan bahwa ukuran potongan umbi berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit, sehingga teknologi perbanyakan menjadi aspek penting jika tanaman ingin dikembangkan secara massal," lanjutnya.
Sebenarnya, budidaya Dioscorea alata sudah dilakukan di Indonesia, tetapi belum berkembang sebagai komoditas komersial sebesar umbi-umbi lain yang marak ditemukan di pasaran, seperti singkong atau kentang.
Prof Agung mengatakan, budidaya ubi kelapa (nama lain dari ube) masih dilakukan dalam skala terbatas di beberapa daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.