Dengan pendekatan tersebut, jersey bukan dibuat sekadar berdasarkan ukuran S, M, L, dan seterusnya, melainkan potongan pakaian diperhitungkan agar mengikuti bentuk dan pergerakan tubuh atlet. Jersey yang digunakan pemain juga tidak persis sama dengan jersey replika yang dipakai suporter. Kelme menyebut versi player issue menggunakan K-TechFit dan DrySport+ Fabric.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu stabilitas material dan sirkulasi udara sekaligus mendukung kemampuan pengelolaan keringat. Sementara itu, jersey replika tetap menggunakan material polyester dengan teknologi moisture wicking dan quick drying. Perbedaan tersebut membuat jersey player issue lebih diarahkan untuk kebutuhan performa atlet, sedangkan versi replika dibuat agar penggemar bisa mendapatkan tampilan dan karakter jersey Timnas dengan harga yang lebih terjangkau.

Baik jersey home maupun away player issue yang dijual Kelme tercatat menggunakan material 100% polyester. Bahan ini banyak digunakan dalam pakaian olahraga karena relatif ringan, kuat dan dapat dirancang untuk membantu pengelolaan kelembapan. Namun, yang membuat jersey olahraga berbeda bukan hanya jenis seratnya. Struktur kain, pola rajutan, konstruksi pakaian, ventilasi, dan potongannya ikut menentukan bagaimana pakaian tersebut terasa ketika digunakan untuk aktivitas fisik.

Ada proses lain yang menarik di balik pengembangan jersey Timnas Indonesia. CEO Kelme Indonesia Kevin Wijaya mengatakan proses perancangan dilakukan melalui kolaborasi antara Kelme dan PSSI. Bahkan pelatih Timnas Indonesia John Herdman turut terlibat dalam memastikan kualitas material jersey.

Menurut Kevin, keterlibatan Herdman bukan untuk menentukan desain visual. Fokusnya adalah memastikan material yang digunakan memiliki sirkulasi udara yang baik, ringan dan nyaman ketika dipakai bertanding. Artinya, keputusan mengenai bahan jersey tidak hanya datang dari sisi fashion atau desain. Kebutuhan pemain di lapangan juga menjadi pertimbangan.