"Gabah itu dikeringkan, kemudian digiling menjadi beras, beras yang sudah digiling kemudian dikirimkan ke gudang Bulog, itu menjadi stok secara nasional," kata Manajer Operasi SPP Kendal, M Aziz Latif di SPP Kendal, Jumat (30/10).
Dalam proses produksi itu, dilakukan pula penyortiran terhadap beras yang rusak, yakni beras berwarna hitam, kuning, ataupun kusam. Gabah yang masih terbawa juga ikut disortir, dan turun menjadi produk berlabel 'reject' yang biasanya diambil untuk pakan.
Adapun, Aziz menjelaskan, SPP Kendal yang berluas sekitar 1,5 hektare itu memiliki kapasitas pengeringan sekitar 120 ton gabah per hari. Sementara itu, kapasitas penggilingannya mencapai sekitar 50 ton per hari.
"Proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 16 jam, kemudian giling sekitar 8 jam. Jadi dari awal sampai akhir butuh waktu sekitar 1-2 hari kerja," jelasnya.
"Fasilitas pengeringan kami menggunakan sistem drying, jadi kalau kadar air padinya 25-30 persen, bisa langsung dikeringkan, tidak tergantung matahari," lanjutnya.
Selain mendukung proses pengadaan untuk penugasan pemerintah, SPP Kendal juga memproduksi beras komersial. Pantauan NadiKabar di SPP Kendal, tampak beras yang sudah selesai digiling juga ada yang tengah dikemas menjadi Beras Punokawan yang akan didistribusikan ke toko retail modern di Kota Semarang.
"Tahun ini pasar ritel modern juga membutuhkan pasokan, jadi kami lebih konsen ke produksi beras untuk komersial," jelasnya.
"Untuk komersial kami total giling 5,6 ribu ton gabah, kalau rice to rice sekitar 2 ribu ton, total 8,1 ton untuk komersial," lanjutnya.
Setelah melalui proses pengolahan, beras untuk penugasan pemerintah selanjtnya dikirim ke gudang Bulog. NadiKabar juga berkesempatan melihat gudang beras yang berlokasi di Tambakaji, Kota Semarang.