"Saya kira apa yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo ini sudah sangat banyak yang berbeda. Kita semua akan melakukan pembangunan ke depan dengan cara yang berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan," katanya.

Sebagai contoh terkait kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menyebut jumlah masyarakat berkapasitas tinggi di Indonesia saat ini masih tergolong sangat kecil yakni sekitar 7%.

Padahal, untuk menciptakan critical mass yang mampu menggerakkan perubahan peradaban dan ekonomi secara masif, dibutuhkan setidaknya 20% populasi berpendidikan tinggi. Atas dasar inilah ia sangat mengapresiasi sejumlah program pemerintah di bidang pendidikan.

"Sekarang Presiden sangat semangat dan visioner untuk membuat sekolah macam-macam karena ingin mengejar orang pintar tadi," ungkapnya.

Burhanuddin menegaskan, perubahan cara pembangunan bukan berarti mengubah tujuan akhir pembangunan nasional. Menurutnya, tujuan yang hendak dicapai tetap sama, yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.