NADIKABAR.COM — Ekonom senior Burhanuddin Abdullah menilai target pertumbuhan ekonomi 8% era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Namun, Indonesia harus berani menempuh cara-cara baru yang berbeda dari masa lalu.
Ia mengungkapkan perhitungan terkait target pertumbuhan ekonomi yang pernah dilakukan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dapat membantu Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Burhanuddin menjelaskan dengan pertumbuhan ekonomi nasional 6% per tahun, Indonesia diproyeksikan keluar dari middle income trap pada 2041. Sementara jika pertumbuhan mencapai 7% per tahun, target tersebut dapat dicapai lebih cepat pada 2038, namun, target tersebut kemudian didorong lebih tinggi menjadi 8%.
Menurutnya target pertumbuhan ekonomi 8% tetap memungkinkan dicapai Indonesia, dengan catatan terdapat perubahan mendasar dalam cara pembangunan ekonomi dilakukan.
"Sangat mungkin bisa mencapai 8%. Kita pernah tumbuh 8%, bukan hanya sekali, tapi lima kali di zaman Orde Baru dulu. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak bisa?" ujar Burhanuddin dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, terdapat dua kunci utama untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut, yakni peningkatan produktivitas dan efisiensi. Ia menekankan, Indonesia tidak bisa lagi menggunakan pendekatan pembangunan yang sama dengan masa lalu jika ingin menghasilkan tingkat pertumbuhan yang berbeda.
Sebab jika pemerintah masih memakai pendekatan pembangunan yang lama, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bakal terus tertahan di kisaran 5%.
"Cara kita memang harus berbeda. Kalau caranya sama seperti yang lalu, pertumbuhan kita tetap 5%. Kunci paling pokok mewujudkan itu cuma dua, yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi," tegasnya.
Ia bahkan mengutip ungkapan populer yang dikaitkan dengan Albert Einstein soal pentingnya inovasi cara berpikir. "Kegilaan itu adalah ketika kita melakukan hal yang sama terus-menerus tetapi kita ingin hasil yang berbeda," lanjutnya.
Burhanuddin menilai sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo saat ini sudah mulai menunjukkan upaya perubahan pendekatan pembangunan demi mencapai target tersebut.
"Saya kira apa yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo ini sudah sangat banyak yang berbeda. Kita semua akan melakukan pembangunan ke depan dengan cara yang berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan," katanya.
Sebagai contoh terkait kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menyebut jumlah masyarakat berkapasitas tinggi di Indonesia saat ini masih tergolong sangat kecil yakni sekitar 7%.
Padahal, untuk menciptakan critical mass yang mampu menggerakkan perubahan peradaban dan ekonomi secara masif, dibutuhkan setidaknya 20% populasi berpendidikan tinggi. Atas dasar inilah ia sangat mengapresiasi sejumlah program pemerintah di bidang pendidikan.
"Sekarang Presiden sangat semangat dan visioner untuk membuat sekolah macam-macam karena ingin mengejar orang pintar tadi," ungkapnya.
Burhanuddin menegaskan, perubahan cara pembangunan bukan berarti mengubah tujuan akhir pembangunan nasional. Menurutnya, tujuan yang hendak dicapai tetap sama, yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.