Saat kembali ke sarang, burung-burung tersebut dapat melakukan perjalanan balik ke arah timur melintasi garis bujur ke zona yang Mataharinya terbit lebih awal. Akibatnya, mereka dapat mengalami jet lag hingga satu jam seperti yang manusia alami jika melakukan penerbangan ke wilayah dengan zona waktu yang lebih awal.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (29/10) tersebut menemukan bahwa arah terbang burung-burung tersebut menunjukkan penyimpangan (systematic deviations) yang sejalan dengan efek pergeseran orientasi waktu pada kompas Matahari mereka.
Tim peneliti membandingkan data pergerakan arah burung dengan pergerakan Matahari menggunakan model statistik. Hasilnya, mereka menemukan bahwa penyimpangan cenderung disebabkan oleh kompas Matahari, bukan dinamika magnet Bumi seperti dugaan alternatif dari hipotesis sebelumnya.
Kesalahan navigasi ini juga tetap terjadi bahkan ketika burung-burung tersebut terbang di sepanjang garis pantai yang terlihat, di mana penanda lokasi sebenarnya dapat memandu mereka, membuktikan bahwa burung-burung tersebut memang selalu mengandalkan kompas Matahari.
"Sungguh menakjubkan untuk berpikir bahwa miliaran hewan migrasi menatap matahari untuk menentukan arah, mengandalkan jam yang berdetak tanpa suara di dalam tubuh mereka, dan bahwa kesalahan pada jam tersebut dapat menyebabkan mereka menyimpang sedikit dari jalur yang seharusnya," kata peneliti utama Patrick Lewin.
Kesalahan navigasi efek jet lag pada burung yang diamati relatif kecil, hanya sekitar 15 derajat. Burung tersebut juga tampaknya mampu mengenali posisi mereka dan menyesuaikan arah rute pulang secara terus menerus sehingga jarak tambahan yang ditempuh kemungkinan tidak terlalu jauh.