Menurut perhitungan mereka, jika seekor burung camar kembali dari jarak 1.000 kilometer dengan kesalahan kompas rata-rata 7 derajat dan terus menerus menyesuaikan arahnya, ia hanya akan menempuh jarak tambahan sekitar 5 kilometer lebih jauh dari rute idealnya.

Meski demikian, temuan ini menunjukkan dampak yang lebih luas bagi hewan yang melakukan perjalanan migrasi yang lebih jauh tanpa dapat terus menerus menyesuaikan arah. Misalnya, pada burung yang melakukan migrasi pertamanya, kesalahan navigasi berpotensi menggeser mereka dari tujuannya hingga ratusan kilometer.

Para peneliti juga mengatakan bahwa efek jet lag ini berpotensi membawa dampak lain selain navigasi sebagaimana yang dialami manusia seperti gangguan tidur, kelelahan, dan gejala lainnya. Untuk itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui efek serupa pada kesehatan, perilaku, atau kelangsungan hidup mereka.

Selain untuk mengetahui dampaknya pada burung, penelitian terhadap bagaimana burung camar beradaptasi menyesuaikan kembali arah terbangnya mungkin dapat mengatasi masalah jet lag pada manusia.

"Mungkin burung-burung yang secara rutin melakukan perjalanan jarak jauh ini dapat membantu kita mempelajari cara mengatasi dan mengobati jet lag untuk menghindari efek negatif yang sangat buruk bagi kesehatan kita," kata Patrick.