NADIKABAR.COM — Australia mengerahkan pesawat C-130 Hercules untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur. Pesawat yang dioperasikan New South Wales (NSW) Rural Fire Service itu bukan sekadar pesawat angkut militer yang membawa air, melainkan telah dikonfigurasi sebagai Large Air Tanker untuk operasi pemadaman dari udara.

Dalam pemaparan 'Info Bencana Terkini' per 5 November 2026 di kanal YouTube Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, pesawat tersebut mampu menjatuhkan hingga 15.000 liter air dalam satu kali penerbangan atau sortie.

"Pesawat tersebut mendukung upaya penanganan karhutla di Kalimantan Timur melalui operasi pemadaman udara selama tujuh hari, terhitung mulai tanggal 6 besok hingga 12 November 2026. Dukungan ini merupakan wujud persahabatan kerja sama dua negara dalam penanganan bencana," papar Berton.

Dengan perkiraan enam sortie sehari, volume air yang dapat dijatuhkan mencapai lebih dari 100.000 liter. Operasi bantuan Australia dijadwalkan berlangsung pada 6-12 November 2026. Selain C-130, Australia mengirimkan satu pesawat Cessna Citation sebagai pesawat pemandu serta 20 personel, termasuk ahli pemadaman kebakaran udara.

Dalam konfigurasi Large Air Tanker, C-130 dilengkapi tangki khusus untuk membawa air atau cairan pemadam. Sistem pelepasannya dapat diatur agar muatan dijatuhkan dalam satu kali pelepasan maupun beberapa bagian, sesuai kebutuhan dan kondisi area kebakaran.

Mengutip ABC, pesawat tanker udara Hercules L100 menggunakan sistem pelepasan yang dikendalikan komputer. Teknologi ini mengatur laju keluarnya cairan untuk menghasilkan cakupan yang sesuai dengan sasaran pemadaman.

Dengan pengaturan tersebut, air atau cairan pemadam tidak sekadar ditumpahkan dari udara. Awak pesawat perlu memperhitungkan posisi api, arah angin, ketinggian, kecepatan, serta bentuk area yang hendak dibasahi.

Pesawat pemandu juga memiliki peran penting. Dalam operasi di Indonesia, Cessna Citation akan membantu mengarahkan C-130 menuju lokasi yang telah dipetakan. Koordinasi ini diperlukan agar pesawat tanker dapat menjatuhkan muatan di area sasaran dengan lebih tepat.

Pengerahan C-130 menjadi bagian dari kebutuhan memperkuat operasi udara untuk menangani karhutla. Dalam pemaparan Berton, disebutkan bahwa operasi penanganan karhutla melibatkan 46 armada udara di 12 wilayah.

Armada tersebut terdiri dari 28 helikopter water bombing dan 18 unit lainnya untuk patroli, dukungan operasi, serta kegiatan terkait, termasuk pesawat CASA dan operasi modifikasi cuaca.

BNPB juga mencatat sejumlah tantangan di lapangan, mulai dari luasnya wilayah kebakaran, sulitnya akses menuju lokasi, hingga karakteristik lahan gambut yang dapat menyimpan api di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa water bombing bukan solusi tunggal. Air yang dijatuhkan dari pesawat dapat membantu menekan api di permukaan, tetapi titik api yang tersembunyi di dalam gambut tetap membutuhkan penanganan lanjutan oleh petugas darat.

Karena itu, efektivitas operasi udara bergantung pada koordinasi antara pesawat, tim darat, pemetaan titik api, serta kondisi cuaca. Pesawat tanker dapat mempercepat distribusi air ke lokasi yang sulit dijangkau, tetapi pemadaman tetap membutuhkan strategi terpadu agar api tidak kembali menyala.

Dukungan C-130 Australia pun bukan hanya soal besarnya volume air yang dapat dijatuhkan. Teknologi pesawat, sistem pemanduan, dan koordinasi operasi menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya Indonesia menghadapi karhutla.