NADIKABAR.COM β€” Peneliti keamanan siber membongkar keberadaan celah keamanan fatal berlabel WPSplinter yang mengintai ratusan juta router berbasis chipset Broadcom di seluruh dunia.

Parahnya, celah kuno yang telah diabaikan selama 8 tahun ini memungkinkan peretas mengambil alih kendali perangkat hanya melalui jangkauan sinyal Wi-Fi tanpa memerlukan kata sandi maupun interaksi pengguna.

Temuan ini dipaparkan oleh peneliti keamanan siber Quentin Kaiser dalam konferensi keamanan Hexacon di Paris. Nama WPSplinter disematkan secara mandiri oleh Kaiser lantaran Broadcom menolak menerbitkan identitas kerentanan resmi (CVE identifier).

Celah keamanan ini bersarang pada kode lama fitur Wi-Fi Protected Setup (WPS) buatan Broadcom--fitur yang biasa digunakan untuk menghubungkan perangkat ke jaringan Wi-Fi cukup dengan menekan tombol pada router.

Kode tersebut mengalami kegagalan fungsi saat memproses pertukaran pesan tertentu, sehingga memungkinkan peretas membaca memori router hingga mengeksekusi kode berbahaya dari jarak jauh (Remote Code Execution).

Daya rusak serangan ini tergolong sangat berbahaya karena:

Dalam demonstasi teknisnya, Kaiser berhasil menyedot kunci Wi-Fi dari memori NVRAM router Askey TCG3000 milik operator Orange Belgium, serta membuka remote shell penuh secara nirkabel pada router Sagemcom Proximus BBOX3V+ tanpa memerlukan koneksi internet sama sekali.

Skandal terbesar dari kasus WPSplinter adalah runtuhnya rantai pasokan (supply chain) pembaruan perangkat lunak. Saat dilaporkan pada Juli lalu, Broadcom mengaku telah mengetahui celah tersebut sejak 2018 dan mengganti kodenya di lini produk baru. Namun, perbaikan tersebut ternyata tidak pernah sampai ke router yang terpasang di rumah-rumah konsumen.

Kaiser menjelaskan bahwa penolakan Broadcom untuk mendaftarkan kode CVE membuat laporan kerentanan ini tidak pernah masuk ke dalam radar jalur pipa pembaruan (patch pipeline) yang diandalkan oleh produsen router maupun penyedia layanan internet (ISP).

Daftar perangkat terdampak mencakup merek-merek raksasa dunia seperti Cisco, TP-Link, Netgear, Sagemcom, Nokia, ZTE, hingga Zyxel yang digunakan oleh ISP global seperti Movistar, Optus, KPN, dan TΓΌrk Telekom. Kaiser memperkirakan jumlah perangkat yang rentan secara global mencapai ratusan juta unit.

Sisi menarik lainnya dari penemuan celah ini adalah keterlibatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kaiser mengungkapkan bahwa alat berbasis AI membantunya mengidentifikasi dan merumuskan eksploitasi bug rumit ini dalam waktu kurang dari satu minggu--pekerjaan yang secara manual biasanya memakan waktu berbulan-bulan.

Dahulu, firmware router terlindungi oleh konsep security through obscurity (keamanan berkat kerumitan dan terisolasinya kode). Namun keberadaan AI kini memangkas hambatan tersebut, membuat perburuan kelemahan sistem menjadi jauh lebih mudah, baik bagi peneliti keamanan maupun peretas jahat.

Bagi pengguna di rumah, memperbarui kata sandi Wi-Fi tidak akan berguna untuk mencegah serangan ini karena peretasan terjadi sebelum proses otentikasi login.

Mematikan fitur WPS memang disarankan, tetapi Kaiser memperingatkan bahwa langkah tersebut mungkin tidak sepenuhnya menonaktifkan kode Broadcom yang rentan di dalam sistem.

Langkah pencegahan paling aman yang disarankan adalah:

Kaiser juga telah mengunggah script pendeteksi khusus di platform GitHub agar pengelola jaringan dapat memeriksa apakah perangkat mereka terdampak celah WPSplinter ini atau tidak, demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Sabtu (24/10/2026).