"Faktor itu harus kami keluarkan dulu agar mulai memperlihatkan kinerja di tahun 2026 yang real. Kalau dibandingkan langsung tanpa penyesuaian, angkanya tidak apple to apple," ujarnya dalam diskusi Chandra Asri dengan awak media, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).
"Jika faktor penyesuaian pencatatan akuntansi (one-off negative goodwill) dari akuisisi tahun 2025 dikeluarkan, kinerja riil Chandra Asri pada 2026 menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat," sambung Suryandi.
Setelah penyesuaian, ia menjelaskan sejak awal tahun hingga kuartal III-2026 perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 8,2 miliar atau sekitar Rp 148,87 triliun (kurs Rp 18.156 per dolar AS. Angka ini tercatat melonjak tajam dibanding periode yang sama 2025 yakni US$ 5 miliar atau sekitar Rp 90,78 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong lonjakan perolehan EBITDA perseroan dari posisi minus US$ 32 juta atau Rp -580,99 miliar menjadi positif US$ 1 miliar atau Rp 18,15 miliar. Dari sisi bottom line, Chandra Asri berhasil membalikkan posisi rugi bersih sebesar US$ 153 juta pada 2025 menjadi laba bersih sebesar US$ 395 juta atau sekitar Rp 7,17 triliun per September 2026.