NADIKABAR.COM — Sejumlah negara berkembang disebut mulai memanfaatkan teknologi dan keahlian dari China untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Proyek ini diyakini membantu memperluas akses listrik, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal.
China sendiri telah berkomitmen untuk menghentikan pembangunan PLTU baru di luar negeri pada 2021. Negara tersebut mengarahkan kerja sama dengan negara-negara mitra Belt and Road ke proyek energi hijau, seperti tenaga surya, angin, dan air.
Mengutip Xinhua, Rabu (21/10/2026) proyek energi terbarukan di wilayah Asia Tenggara turut melibatkan perusahaan China untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat sekaligus menekan emisi.
Ekspansi proyek pembangkit listrik energi terbarukan asal China sendiri telah menjamur di negara-negara Asia Tenggara. Di Karawang, Jawa Barat, misalnya terdapat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 megawatt (MW) yang dibangun China Electric Power Construction Group Hubei Engineering Co Ltd mulai beroperasi pada 2024.
Pembangkit ini memasok listrik bersih ke kawasan industri, mengurangi emisi karbon hingga 19.800 ton per tahun, dan menghemat sekitar 8.800 ton batu bara standar. Proyek ini juga melibatkan transfer keahlian, di mana selama pembangunan China melatih lebih dari 300 pekerja Indonesia agar lebih mandiri.